Yanus tak kuasa menahan diri. Hatinya timbul tenggelam. Seperti bintang yang digulung mendung malam. Tangannya terus mengepal, memaki tiap menit yang berganti.
"Ya memang harus bicara duit. Lha sampeyan itu edan gak kathokan atau gimana," kata Diran.
"Tapi ini urusannya beda. Duit ya duit. Nanti, itu nanti," kata Yanus berusaha meyakinkan.
"Gini lho. Kalau saya wahing keluar duit, ngupil keluar duit, ngising keluar duit, pasti saya akan bilang seperti itu. Tapi nyatanya gak keluar duit-e. Trus gimana?"
"Trus gimana?"
"Ya kalau wahing keluar itu, ngupil juga itu... bukan duit"
"Bathukmu sempal. Trus gimana? Apa nggak ada kompromi?"
"Bapaknua si Wati bilang gitu. Anaknya mau dititipkan si Sawo. Mau dibawa ke Batam. Dia sudah pegel diuber hutang"
Yanus membanting rokok kreteknya. "Sawo ninggalin duit berapa se? Sini tak ganti. Ponakanku itu masih pingin sekolah. Masih mau belajar nari. Masih pingin merasakan baca buku dan diuber-uber PR. Berapa?"
"Sepuluh juta, Cak. Itu nanti tiap bulan mau dikirimin lagi. Minimum katanya sejuta"
Yanus mlungker. Kalau mengganti sepuluh juta ya runyam. Diam-diam ia membayangkan seperti yang diomelkan Diran. Kalau wahing keluar duit. Kalau ngupil keluar duit. Kalau ...
"Jadi diganti, Cak? Saya tak nelpon Sawo sama bapaknya Wati. Masih bisa dibatalkan kok. Kata bapaknya Wati, dia juga gak tega melepas Wati ke Batam," kata Diran.
"Aku gak pegang duit segitu. Kalau dua ratus lima puluh ribu gimana?"
Diran mbesengut. "Lha sampeyan itu edan gak kathokan atau gimana?" kata Diran balik bertanya.
Malam merintih. Seperti Yanus. Wati sudah dia anggap seperti anak perempuannya. Tapi gara-gara monster sial bernama kemiskinan, semua jadi berantakan. Yanus yang membiayai proses kelahiran Wati. Yanus juga yang membiayai sekolah, membelikan baju seragam, dan entah apa lagi. Istri Yanus juga sayang pada anak perawan yang baru kenal pembalut setahun lalu itu.
"Jadi gitu ya Cak. Saya tak bilang ke Sawo sama bapaknya Wati. Sampeyan sudah merestui," kata Diran pelan. Yanus gusar menggelengkan kepala. Entah mengapa, ia merasa bakal kehilangan sesuatu. Ia jadi ingat pembicaraan dengan istrinya, "Anak itu bukan sekedar buah hati, bukan pula buah cinta. Apalagi onggokan daging yang tumbuh dan berkembang. Ia harapan. Sebuah oase yang mungkin memberi kesejukan, jawaban atas banyak pertanyaan".
Istrinya yang saat itu mendengar dengan ekspresi sungguh-sungguh, tak sepenuhnya memahami maksud Yanus. Yang ia tahu, Yanus selalu sungguh-sungguh saat bicara cinta. Dan Wati, keponakan mereka, seperti jawaban atas kerinduan. Karena Yanus selalu ingin punya anak perempuan.
Kini, Yanus menepi bersama malam. Wati telah pergi. Lolongan dan air mata bapak Wati masih terdengar. Tapi Yanus yang gundah mencoba tak peduli. Biarlah, biarlah semua mengalir dalam lorong batu. Bukankah persoalan hanya masalah waktu. Untuk datang dan hinggap di benak semua orang.***
surabaya, februari 2010 | hendro d. laksono
Lorong Batu
Thursday, February 25, 2010
Diposting oleh jagung manis di 11:58 PM
Label: KONTEMPLASI
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment